โจ Dari Ngetik Kode ke Ngasih Arah
Di dunia teknologi yang terus berkembang, cara kita ngoding juga ikut berubah. Salah satu tren terbaru yang mulai banyak dibicarakan adalah Vibe Coding.
Vibe coding adalah praktik pengembangan software yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan kode fungsional dari perintah natural language. Artinya, kita tidak lagi selalu menulis kode baris demi baris, tapi cukup menjelaskan tujuan aplikasi, lalu AI membantu membangun, memperbaiki, hingga men-debug kode tersebut.
Istilah ini dipopulerkan oleh Andrej Karpathy pada awal 2025. Ia menggambarkan perubahan peran developer: dari penulis kode utama menjadi pengarah sistem AI. Kita fokus ke gambaran besar, sementara AI menangani detail teknisnya.
๐ง Cara Kerja Vibe Coding
Dalam vibe coding, komunikasi dengan AI jadi kunci utama. Kita tidak hanya bilang โbuat kodeโ, tapi juga menjelaskan maksud, alur, dan perilaku yang diinginkan.
Contohnya sederhana:
โBuat fungsi Python yang membaca file CSV dan menampilkan 5 baris pertama.โ
AI lalu menghasilkan kode, dan kita tinggal mengevaluasi hasilnya. Jika ada yang kurang, kita lanjutkan dengan instruksi tambahan.
Dengan pendekatan ini, proses coding terasa lebih seperti berdialog dibanding sekadar mengetik.
๐ Loop Kode Kecil (Iterasi Cepat)
Tahapan pertama vibe coding biasanya dimulai dari loop kecil.
Alurnya seperti ini:
๐ Jelaskan tujuan singkat
๐ค AI membuat kode
โถ๏ธ Jalankan dan observasi hasil
๐ ๏ธ Beri instruksi tambahan jika perlu
๐ Ulangi sampai sesuai
Misalnya:
โBuat fungsi baca CSV.โ
โTambahkan validasi jika file tidak ada.โ
โTampilkan error message yang ramah.โ
Loop ini membuat pengembangan jadi cepat, fleksibel, dan minim stres, terutama saat prototyping.
๐๏ธ Siklus Aplikasi Secara Menyeluruh
Selain iterasi kecil, vibe coding juga bisa dipakai untuk membangun aplikasi utuh.
Tahapannya:
๐ก Mendeskripsikan ide besar aplikasi
๐งฉ AI membuat struktur project dan logika awal
๐งช Testing dan optimasi melalui prompt lanjutan
๐ Validasi keamanan dan kualitas oleh manusia
๐ Deploy aplikasi
Di sini, developer berperan sebagai arsitek, bukan sekadar penulis kode. Kita memastikan arah, kualitas, dan keamanan tetap terjaga.
โ๏ธ Vibe Coding vs Pemrograman Tradisional
Perbedaannya cukup terasa.
๐งพ Tradisional: menulis kode manual baris demi baris
๐ค Vibe Coding: memberi instruksi natural language ke AI
๐จโ๐ป Tradisional: developer sebagai pelaksana utama
๐ฏ Vibe Coding: developer sebagai pengarah dan penguji
โณ Tradisional: lebih sistematis dan lambat
โก Vibe Coding: cepat untuk prototipe dan eksplorasi
Vibe coding bukan menggantikan developer, tapi menggeser peran developer ke arah yang lebih strategis.

๐ช Dampak untuk Pemula
Salah satu kekuatan vibe coding adalah aksesibilitasnya.
Pemula tidak lagi terhambat oleh:
Syntax yang rumit
Setup project yang panjang
Error yang membingungkan
Dengan vibe coding, seseorang bisa fokus dulu ke ide, alur, dan fungsi, baru perlahan memahami teknis di baliknya. Ini membuat belajar coding terasa lebih ramah dan menyenangkan.
โ ๏ธ Tantangan yang Tetap Ada
Meski terdengar ideal, vibe coding tetap punya tantangan:
๐ Kode AI harus tetap direview
๐ Keamanan tidak boleh dilepas
๐ง Logika tetap harus dipahami manusia
๐ Over-trust ke AI bisa berbahaya
AI membantu, tapi tanggung jawab akhir tetap ada di developer.
๐ Ngoding dengan โRasaโ
Vibe coding bukan sekadar teknik, tapi cara baru menikmati proses ngoding. Kita tidak hanya menulis kode, tapi membangun solusi lewat dialog dengan AI.
Di era ini, developer bukan cuma programmer, tapi juga:
Arsitek
Problem solver
Pengarah sistem
Kalau dulu ngoding soal ketelitian baris kode, sekarang juga soal vibe, ide, dan arah.
Dan mungkin, ke depan, ngoding bukan lagi soal siapa paling cepat mengetik, tapi siapa paling jago mengarahkan teknologi. ๐คโจ